riawindari

Just another WordPress.com site

MASALAH MENYUSUI PADA BAYI September 2, 2011

Filed under: kesehatan — riawindari @ 4:09 pm

Masalah Menyusui Pada Bayi

a. Bayi sering menangis
Menangis untuk bayi adalah cara berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya. Karena itu bila bayi sering menangis perlu dicari sebabnya, dan sebabnya tidak selalu karena kurang ASI.
1). Perhatikan, mengapa bayi menangis, apakah karena laktasi belum berjalan baik, atau sebab lain, seperti ngompol, sakit, merasa jemu, ingin digendong atau disayang.
2). Keadaan itu merupakan hal yang biasa dan ibu tak perlu cemas, karena kecemasan ibu dapat mengganggu proses laktasi itu sendiri, dan akibatnya produksi ASI bisa berkurang.
3). Cobalah atasi dengan memeriksa pakaian bayi, mungkin perlu diganti karena basah, coba mengganti posisi bayi menjadi tengkurap, atau digendong dan dibelai.
4). Mungkin bayi belum puas menyusu karena posisi bayi tidak benar saat menyusu akibatnya ASI tak sempurna keluarnya.
5). Bayi menangis mempunyai maksud menarik perhatian terutama ibu karena sesuatu hal, oleh karenanya janganlah membiarkan bayi menangis terlalu lama, ia akan menjadi lelah, kemampuan menyusu kurang, kecuali itu ibu juga menjadi kesal, sehingga dapat mengganggu proses laktasi. Sering bayi hanya mempunyai masalah psikologis, ingin merasa aman dan menginginkan perhatian ibu.

Secara sistematis sebab bayi menangis dapat dikelompokkan sebagai berikut:
a). Bayi merasa tidak aman (ia justru membutuhkan banyak dekapan dan ditemani selalu)
b). Bayi merasakan sakit (Panas, kolik, hidung tersumbat dll).
c). Bayi basah (Ngompol, bab tak lekas diganti dll).
d). Bayi kurang gizi (Kurang sering menyusu, kurang lama menyusu, menyusu tidak efisien).
b. Bayi bingung putting
Bingung puting (nipple confusion) adalah suatu keadaan yang terjadi karena bayi mendapat susu fomula dalam botol berganti – ganti dengan menyusu pada ibu. Peristiwa ini terjadi karena mekanisme menyusu pada puting ibu berbeda dengan mekanisme menyusu pada botol. Menyusu pada ibu memerlukan kerja otot – otot pipi, gusi, langit – langit dan lidah. sebaliknya pada menyusu botol bayi secara pasif dapat memperoleh susu buatan. Yang menentukan pada menyusu botol adalah faktor dari si pemberi antar lain kemiringan botol atau tekanan gravitasi susu, besar lubang dan ketebalan karet dot.
Tanda-tanda bayi bingung puting:
1). Bayi menghisap puting seperti menghisap dot.
2). Menghisap secara terputus-putus dan sebentar-sebentar.
3). Bayi menolak menyusu.
Karena itu untuk menghindari bayi bingung puting: .
1). Jangan mudah mengganti ASI dengan susu formula tanpa indikasi (medis) yang kuat.
2). Kalau terpaksa harus memberikan susu formula berikan dengan sendok atau pipet dan bahkan cangkir, jangan sekali-kali menggunakan botol dan dot atau bahkan memberi kempeng.
c. Bayi prematur dan bayi kecil (BBLR)
Bayi kecil, prematur atau dengan berat badan lahir rendah (BBLR) mempunyai masalah menyusui karena refleks mengisapnya masih relatif lemah. Oleh karenanya bayi kecil justru harus cepat dan lebih sering dilatih menyusu. Berikan sesering mungkin walaupun waktu menyusunya pendek – pendek.
Untuk merangsang mengisap sentuhlah langit – langit bayi dengan jari ibu yang bersih. Bila bayi dirawat di RS, harus sering dijenguk, dilihat, disentuh dengan kasih sayang, dan bila mungkin disusui langsung. Bila belum bisa menyusu, ASI dikeluarkan dengan tangan atau pompa, yang kemudian diberikan dengan sendok atau cangkir.
d. Bayi kuning (Ikterik)
Kuning dini terjadi pada bayi usia antara 2 – 10 hari. Bayi kuning lebih sering terjadi dan lebih berat kasusnya pada bayi-bayi yang tidak mendapat ASI cukup. Warna kuning disebabkan kadar bilirubin yang tinggi dalam darah (hiperbilirubinemia), yang dapat terlihat pada kulit dan sklera (putih mata). Pada orang dewasa terlihat kuning bila kadar bilirubin serum mencapai kira-kira 2mg/100 ml, tetapi pada bayi bar lu lahir jarang terjadi sebelum mencapai kadar 5 mg/100ml. Untuk mencegah agar warna kuning tidak lebih berat bayi jelas membutuhkan lebih banyak menyusu. Yang harus dilakukan adalah mulai menyusui segera setelah bayi lahir dan susui bayi sesering mungkin tanpa dibatasi.
Menyusui dini sangat penting, karena bayi akan mendapat Kolostrum atau susu jolong (susu awal). Kolostrum bersifat purgatif ringan, sehingga membantu bayi untuk mengeluarkan Mekonium (feses bayi pertama yang berwarna kehitaman). Bilirubin dikeluarkan melalui feses, jadi disini Kolostrum berfungsi mencegah dan menghilangkan bayi kuning.
e. Bayi Kembar
Ibu perlu diyakinkan bahwa alam sudah menyiapkan air susu bagi semua makhluk menyusui termasuk manusia, sesuai kebutuhan pola pertumbuhan masing-masing. Oleh karena itu semua ibu tanpa kecuali sebenarnya sanggup menyusui bayi kembarnya.
Mula – mula ibu dapat menyusui seorang demi seorang, tetapi sebenarnya ibu dapat menyusui sekaligus berdua. Salah satu posisi yang mudah untuk menyusui adalah dengan posisi memegang bola (football position). Jika ibu menyusui bersama-sama, bayi haruslah menyusu pada payudara secara bergantian, jangan hanya menetap pada satu payudara saja. Alasannya ialah, kecuali memberi variasi kepada bayi (dia juga tidak hanya menatap satu sisi terus, agar tidak juling), juga kemampuan menyusu masing – masing bayi mungkin berbeda, sehingga memberikan kesempatan pada perangsangan putting untuk terjadi seoptimal mungkin.
Walaupun football position merupakan cara yang baik. Ibu sebaiknya mencoba posisi lainnya secara berganti – ganti. Yang penting susuilah bayi lebih sering dengan waktu penyusuan yang diinginkan masing – masing bayi, umumnya lebih dari 20 menit. Bila ada yang harus dirawat di RS, susuilah bayi yang dirumah dan peraslah ASI dari payudara lainnya untuk bayi yang dirawat. Ibu juga sebaiknya mempunyai pembantu, karena ibu perlu istirahat agar tidak terlalu kelelahan.
f. Bayi Sakit
Sebagian kecil sekali dari bayi yang sakit, dengan indikasi khusus tidak diperbolehkan mendapatkan makanan per oral, tetapi apabila sudah diperbolehkan, maka ASI harus terus diberikan.
g. Bayi sumbing
Pendapat bahwa bayi sumbing tidak dapat menyusu adalah tidak benar. Bila sumbing pallatum molle (langit – langit lunak) ataupun bila termasuk pallatum durum (langit – langit keras), bayi dengan posisi tertentu masih dapat menyusu tanpa kesulitan.
Ibu harus tetap mencoba menyusui bayinya, karena bayi masih bisa menyusu dengan kelainan seperti ini. Keuntungan khusus untuk keadaan ini adalah bahwa menyusu justru lapat melatih kekuatan otot rahang dan lidah, sehingga memperbaiki perkembangan bicara anak. Kecuali itu menyusu mengurangi kemungkinan terjadinya otitis media (radang telinga tengah), padahal bayi dengan palatoskisis (celah pada langit – langit) mudah terkena radang ini.
Cara menyusui yang dianjurkan adalah:
1). Posisi bayi duduk.
2). Puting dan areola dipegang selagi menyusui, hal ini sangat membantu bayi untuk mendapatkan cukup ASI.
Ibu jari ibu dapat dipakai sebagai penyumbat celah pada bibir bayi bila bayi mempunyai sumbing pada bibir dan langit-langit (labiopalatoskisis), ASI dikeluarkan dengan cars manual ataupun pompa, kemudian diberikan dengan sendok / pipet, atau botol dengan dot yang panjang sehingga ASl dapat masuk dengan sempurna. Dengan cara ini bayi akan belajar menghisap dan menelan ASI, menyesuaikan dengan irama pernafasannya.
h. Bayi dengan lidah pendek
Keadaan seperti ini jarang terjadi yaitu bayi mempunyai Lingual frenulum (jaringan ikat penghubung lidah dan dasar mulut) yang pendek dan tebal serta kaku tak elastis, sehingga lembatasi gerak lidah dan bayi tidak dapat menjulurkan lidahnya untuk mengurut putting dengan optimal.
Bayi pada kondisi seperti ini akan sukar dapat melaksanakan laktasi dengan sempurna, karena lidah tak sanggup memegang puting dan areola dengan baik. Ibu dapat membantu dengan menahan kedua bibir bayi segera setelah bayi dapat menangkap puting dan areola dengan benar. Pertahankan kedudukan kedua bibir bayi agar posisi tidak berubah – rubah.
i. Bayi yang memerlukan perawatan
Bila bayi sakit dan memerlukan perawatan padahal bayi masih menyusu pada ibu, baiknya bila ada fasilitas, ibu ikut dirawat agar pemberian ASI tetap dapat dilanjutkan. Seandainya hal ini tidak memungkinkan maka ibu dianjurkan memerah ASI setiap 3 jam dan disimpan di dalam lemari es untuk kemudian sehari sekali diantar ke rumah sakit di dalam termos es. Perlu diberikan tanda pada botol penampung ASI, jam berapa ASI diperah dan yang lebih dahulu diperah dapat diberikan terlebih

Perawatan Payudara

Perawatan payudara adalah massage payundara pada pasien post partum guna pelancaran air susu ibu untuk proses menyusui. Waktu pelaksanaan adalah dimulai pada hari kedua setelah melahirkan dan dilakukan dua kali sehari sebaiknya sebelum mandi
Tujuan perawatan payudara selama menyusui adalah :
1. Untuk memelihara kebersihan payudara
2. Memperlancar sirkulasi darah dan mencegah tersumbatnya saluran susu.
3. Memperbanyak dan memperlancar produksi ASI
Agar tujuan perawatan payudara dapat tercapai, maka perlu diperhatikan hal – hal sebagai berikut :
1. Lakukanlah perawatan payudara secara teratur.
2. Peliharalah kebersihan sehari – hari.
3. Pemasukan gisi ibu harus lebih baik dan lebih banyak untuk mencukupi produksi ASI.
4. Ibu harus percaya diri akan kemampuan menyusui bayinya.
5. Ibu harus merasa nyaman dan santai.
6. Hindari rasa cemas dan stres karena akan menghambat refleksi oksitoksin.
Pelaksanaan perawatan payudara hendaknya dimulai sedini mungkin, yaitu 1-2 hari setelah bayi dilahirkan dengan melakukannya sebayak dua kali dalam seminggu.
Langkah-langkah perawatan payudara:
1. Siapkan alat dan bahan meliputi minyak kelapa, gelas susu, handuk, peniti, bengkok, waslap, baskom sedang, air hangat dan air dingin.
2. Cuci tangan sebelum melakukan perawatan payudara agar tangan bersih
3. Lakukan pengompresan pada kedua putting susu dan areola mamae dengan menggunakan kapas yang telah diolesi minyak kelapa/baby oil. Pengompresan dilakukan selama 2 – 5 menit
4. Bersihkan putting susu dan areola mamae dengan kapas. Bersihkan secara perlahan, hindari penarikan puting susu keluar dan perhatikan ekspresi ibu
5. Licinkan kedua telapak tangan dengan minyak.
6. Tempatkan kedua telapak tangan di antara kedua payudara.
7. Lakukan pengurutan, dimulai kearah atas, lalu telapak tangan kiri ke arah sisi kiri dan telapak tangan kanan ke arah sisi kanan. Lakukan terus pengurutan ke bawah/ ke samping.
8. Selanjutnya, pengurutan melintang. Telapak tangan mengurut ke depan, lalu kedua tangan dilepas dari payudara.
9. Satu telapak tangan menopang payudara, sedangkan tangan lainnya mengurut payudara dari pangkal/atas ke arah putting susu.
10. Satu telapak tangan menopang payudara, tangan lainnya menggengam dan mengurut dari pangkal menuju putting susu.
11. Kedua payudara dikompres dengan waslap hangat selama 2 menit, lalu diganti dengan waslap dingin selama 1 menit, pengompresan dilakukan secara bergantian selama 3 kali berturut-turut dan akhiri dengan kompres air hangat.
12. Bantu ibu untuk menggunakan kembali pakaiannya. Dan anjurkan ibu untuk menggunakan BH yang menyokong payudara.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s